-->
Admin #1
Berita Terbaru :

Sabtu, 10 Desember 2011

Duet Erliza Hambali dan Ani Suryani : Sabun Transparan

Erliza Hambali (43) bersama rekannya Ani Suryani (46) melihat peluang pasar masih terbuka lebar dalam industri kecantikan. Kedua wanita yang berkecimpung dalam dunia penelitian di Institut Pertanian Bogor ini pun mencoba mengembangkan penelitian pembuatan sabun transparan. Tak disangka, sabun transparan yang mereka buat menda-pat respons positif dari masyarakat. 



KLIK - DetailBagaimana ceritanya Anda memulai penelitian pembuatan sabun transparan? 
Erliza: Selama ini saya telah mengembangkan penelitian surfaktan di kampus. Saya juga bertindak sebagai Ketua Pusat Penelitian Surfaktan di IPB. Demikian pula dengan Ibu Ani Suryani. Beliau lebih banyak berkecimpung dalam bidang riset dan pengembangan surfaktan. Surfaktan sendiri merupakan bagian dari industri hilir kelapa sawit. Perlu diketahui, Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar kedua di dunia. 

Orang lebih banyak mengenal CPO sebagai hasil pengolahan kelapa sawit. Salah satu hasilnya adalah mi-nyak goreng. Tapi nilai tambah dari produk itu masih sedikit. Padahal masih banyak produk lain yang bisa dihasilkan dari pengolahan minyak sawit. Salah satunya adalah surfaktan. 

Hampir semua industri mengguna-kan surfaktan, lo. Misalnya industri ke-cantikan, pengolahan makanan, dan pembuatan bangunan bertingkat. Sur-faktan diperlukan sebagai emulsi dalam pengolahan bahan makanan. Sementara dalam bidang konstruksi, sur-faktan dipakai untuk mempercepat proses pengeringan struktur bangunan. 

Lalu, bagaimana bisa terpikir untuk membuat sabun transparan? 
Erliza: Saya mulai berpikir untuk membuat sabun transparan ketika ber-kunjung ke Dubai. Saat itu saya mendatangi salah satu toko yang khusus menjual aneka sabun. Berbagai macam bentuk dan aroma sabun tersedia di sana. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah sabun transparan. Harganya relatif mahal. Produk itu dijual dengan cara potongan. Jadi, setiap konsumen dapat memotong sesuai dengan kebutuhan mereka. Sabun itu dijual secara timbangan. 

Sepulang dari Dubai, saya sempatin jalan-jalan ke mal. Saya pengen melihat apakah pasar untuk produk ini masih ada. Saya mengambil kesimpulan, pasar untuk industri kecantikan masih terbuka. Sabun juga saya anggap sebagai produk yang dekat dengan konsumen. 

Apa yang Anda lakukan selanjutnya? 
Erliza: Saya pun mulai melakukan percobaan membuat sabun transparan. Saya minta bantuan salah satu asisten laboratorium untuk mencampur beberapa bahan sesuai dengan komposisi yang saya tetapkan. 

Sebenarnya apa bahan dasar dari sabun transparan? 
Erliza: Minyak. Bisa minyak sawit atau minyak kelapa. Selain itu kita tambahkan juga gliserin, surfaktan, parfum, minyak nilam, dan bahan-bahan lainnya. Gliserin memiliki kemampuan untuk melembapkan kulit. Sementara efek membersihkan kulit dan penghasil busa diperoleh dari pemakaian surfaktan. Minyak nilam berfungsi sebagai penahan supaya aroma parfum yang ditambahkan tidak cepat menguap serta bertahan lama. 

Jika memakai minyak sawit, warna-nya lebih kuning dari minyak kelapa. Maka, warna sabun jadi lebih bening. Proses pencetakan dilakukan secara se-derhana dengan memanfaatkan cetak-an agar-agar. Proses pembuatannya hanya memakan waktu satu jam. 


Apakah percobaan itu berhasil? 
Erliza : Enggak juga, ternyata masalahnya macam-macam. 

Seperti apa misalnya? 

Erliza: Wah, busanya ternyata enggak keluar. Selain itu, pada awalnya sabun enggak bisa dilepas dari cetakannya. Bahannya terlalu lembek. Terus, sabun jadi berkeringat. Itu tandanya ada komposisi bahan yang enggak pas. Saya coba lagi, hasilnya masih saja belum memuaskan. Tatkala sabun dipakai, di kulit terasa panas. 

Lalu, bagaimana kelanjutan dari penelitian tersebut? 

Erliza: Akhir tahun 1999, saya minta beberapa mahasiswa bimbingan saya agar meneruskan percobaan ini. Kebetulan saat itu akan diadakan lomba PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa). Mereka pun membuat proposal penelitian untuk membuat sabun transparan. Tapi, hasilnya masih belum stabil. Kalau dibiarkan, sabun transparan tersebut lama-lama jadi berembun. Warnanya pun berubah jadi keruh. Selain itu ada juga mahasiswa yang melakukan penelitian sabun transparan untuk memenuhi tugas akhir mereka. 

Solusi apa yang Anda berikan pada mereka? 

Erliza: Saya dan Ani Suryani bertu-gas untuk memantau hasil penelitian mereka. Bila ada satu masalah, mereka mendatangi kami. Saya dan Ani pun mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan yang muncul. 

Kini, penelitian yang Anda lakukan telah berubah menjadi sebuah peluang usaha baru. Bagaimana Anda merintisnya? 
Erliza: Modal awal dari usaha ini sebenarnya dimulai dari sebuah jasa konsultan. Saya membimbing beberapa anak didik yang telah lulus kuliah dalam menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri. Saya menyarankan agar mereka membuka usaha jasa konsultan.

Keuntungan dari usaha tersebut disisihkan untuk mengawali usaha pembuatan sabun transparan ini. Modal kerja mereka awalnya hanya Rp 100 juta. Sekarang, ada tiga orang anak didik saya (Malik, Giri, dan Tulus) yang terjun langsung dalam usaha ini. Kami menggunakan merek dagang Dr. Liza. Nama itu diambil dari nama pendek saya. 

Oleh karena saya menyukai dunia penelitian, saya memang selalu membawa anak didik untuk mengembangkannya. Selain itu saya menuntun mereka agar bisa mengembangkan penelitian yang berawal dari kampus menjadi sebuah lapangan usaha. Jadi, enggak bergantung cari kerja pada orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright TINFOTAINMENT 2010 -2011 | Design by Fahmi Tri Wendrawan