Dewasa ini, masalah ketahanan pangan menjadi isu nomer satu di dunia. Semua negara berusaha memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Hal ini tidak mengherankan lagi mengingat laju pertumbuhan penduduk yang meningkat tajam, sedang laju produksi pertanian tak menyusulnya.
Pernyataan tersebut sebanding dengan peringatan Thomas Malthus sejak tahun 1798 bahwa jumlah manusia meningkat secara eksponensial, sedangkan usaha pertambahan pangan hanya dapat meningkat secara aritmatika. Diprediksikan, lonjakan penduduk dunia diperkirakan mencapai 9,2 miliar pada 2050 dari jumlah saat ini sekitar 6,5 miliar jiwa. Untuk itu, produksi pangan harus ditingkatkan untuk memenuhi lonjakan tersebut.
Perbedaan laju tersebut telah banyak menimbulkan bencana pangan dunia terutama kelaparan. Seperti pernah terjadi pada awal tahun 1920, akhir dasawarsa empatpuluhan dan awal dasawarsa limapuluhan. Kelaparan melanda hampir semua negara di dunia termasuk negara-negara besar.
Oleh karena itu, harus digalakkan upaya peningkatan dan inovasi produksi pertanian serta pemerataan hasil. Anton Apriantono, Menteri Pertanian, mengungkapkan, pada prinsipnya, dunia memiliki luasan lahan yang cukup untuk menyediakan bahan pangan bagi sekitar 9 miliar penduduk dunia, namun sangat diperlukan konsep yang jelas terhadap pemanfaatan potensi lahan secara efisien dan berkelanjutan. Selain itu, juga pola pendistribusian hasil panen dan upaya untuk menjamin bahwa setiap individu akan memiliki akses terhadap bahan pangan secara memadai.
Untuk meningkatkan produk pangan, diperlukan terobosan dan pengembangan intensifikasi pertanian. Tidak hanya itu, penemuan produk pangan yang baru juga diharapkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Mengingat kebutuhan besar yang harus dipenuhi baik dari kuantitas pangan maupun kualitasnya
Akan tetapi, penemuan-penemuan tersebut tak akan berguna banyak jika tidak dibarengi dengan pengembangan pengolahannya. Diperlukan sistim tepat guna yang dapat memegang peranan mulai dari manajemen pembibitan hingga manajemen distribusi. Dan hal itu dapat diwujudkan dengan menggarap sektor agroidustri.
Agroindustri akan memainkan peran aktor utama dalam perekonomian masa depan. Mengapa? karena di tengah semakin menyusutnya sumber daya tak terbarui, agroindustri dikenal lebih ramah daripada yang lain. Saat ini, penelitian mulai banyak diarahkan ke pemanfaatan produk pertanian sebagai sumber energi yang tentunya membutuhkan agroindustri sebagai wadahnya. Selain itu, peningkatan dan pemerataan komoditi hasil pangan ke seluruh masyarakat demi terwujudnya kesejahteraan umum juga diperankan oleh agroindustri.
Sudah banyak pakar yang menyatakan peranan agroindustri dalam upaya mengatasi pemenuhan ketahanan pangan dunia sangatlah penting. Untuk itu, perlu untuk memberikan dukungan yang lebih besar untuk agroindustri sebagai pioneer perekonomian bangsa sekaligus penopang ekonomi masa depan. Sesuai dengan perkataan Bung Karno, Presiden RI pertama, bahwa majunya suatu bangsa tergantung seberapa mampu bangsa tersebut memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.
Nasoetion, A.H.1991.Pengantar Ilmu-Ilmu Pertanian. Pustaka Litera Antarnusa, Bogor .
Tim Pengajar Pengantar Ilmu Pertanian, 2008. Pengantar ke Ilmu-Ilmu pertanian. Pustaka Litera Antarnusa, Bogor.
*fr


Tidak ada komentar:
Posting Komentar